1. I. Latar Belakang

Kacang-kacangan telah lama dikenal sebagai sumber protein yang saling melengkapi dengan biji-bijian, seperti beras dan gandum. Komoditi ini juga ternyata potensial sebagai sumber zat gizi lain selain protein, yaitu mineral, vitamin B, karbohidrat kompleks dan serat makanan. Disamping diolah secara tradisional dengan direbus, dikukus, dan disayur, sebenarnya potensi penggunaannya sangat luas untuk menghasilkan produk baru. Misalnya sebagai bahan baku tepung campuran (flour mix) yang dapat digunakan dalam pembuatan berbagai produk pangan, termasuk makanan bayi. Kacang-kacangan dapat menyumbang banyak protein dan zat gizi lain bagi masyarakat di negara maju dan negara berkembang. Karena kandungan seratnya tinggi, maka kacang-kacangan juga dapat dijadikan sumber serat.

Dibandingkan dengan makanan berserat yang dewasa ini tersedia dalam bentuk makanan suplemen dengan berbagai merek dagang, sebenarnya kacang-kacangan juga dapat dijadikan sumber serat yang tidak kalah mutunya. Juga dibandingkan dengan serat makanan dalam buah-buahan dan sayuran yang dikenal dapat mencegah timbulnya kanker, mutu serat makanan dalam kacang-kacangan juga tidak kalah. Bahkan kacang-kacangan mempunyai keistimewaan lain, yaitu berharga murah, berprotein tinggi, kandungan lemaknya pada umumnya baik untuk kesehatan dan mengandung berbagai mineral dalam jumlah yang cukup banyak.

Indonesia memiliki banyak potensi pangan local dari jenis kacang-kacangan. Pemanfaatan kacang-kacangan lokal merupakan alternative  sumber protein nabati yang murah dan dapat terjangkau oleh masyarakat Indonesia. Indonesia memiliki beraneka jenis kacang-kacangan yang potensinya belum sepenuhnya tergali. Kacang merah (Phaseolus vulgaris L.), kacang hijau (Phaseolus radiatus L.) dan kacang tunggak (Vigna unguiculata) merupakan jenis kacang yang berpotensi untuk dikembangkan dalam berbagai produk industri pangan (Husaini, 2000).

Manfaat kacang-kacangan sebagai bahan baku pangan disebabkan karena memiliki nilai gizi yang tinggi dilihat dari kandungan proteinnya dan vitamin B1, sehingga dapat dikonsumsi secara langsung, sebagai bahan makanan dan bahan baku olahan produk industri pangan. Salah satu jenis kacang-kacangan yang sangat baik dikonsumsi adalah kacang tanah.Kandungan protein yang cukup tinggi dari kacang tanah (27%) menjadikan salah satu alasan untuk melakukan diversifikasi kacang tanah tersebut menjadi berbagai macam produk olahan.

Kacang tanah (Arachis hypogaea L.) merupakan tanaman polong-polongan atau legum kedua terpenting setelah kedelai di Indonesia. Tanaman ini berasal dari Amerika Selatan namun saat ini telah menyebar ke seluruh dunia yang beriklim tropis atau subtropis. Republik Rakyat Cina dan India merupakan penghasil kacang tanah terbesar dunia.

Sebagai tanaman budidaya, kacang tanah terutama dipanen bijinya yang kaya protein dan lemak. Biji ini dapat dimakan mentah, direbus (di dalam polongnya), digoreng, atau disangrai. Di Amerika Serikat, biji kacang tanah diproses menjadi semacam selai dan merupakan industri pangan yang menguntungkan. Produksi minyak kacang tanah mencapai sekitar 10% pasaran minyak masak dunia pada tahun 2003 menurut FAO. Selain dipanen biji atau polongnya, kacang tanah juga dipanen hijauannya (daun dan batang) untuk makanan ternak atau merupakan pupuk hijau.

1.1 Informasi nilai gizi yang terkandung dalam kacang tanah


No. Nilai gizi per 100 g (3.5 oz) jumlah
kimia
1 energi 570 kkal
2 Karbohidrat 21 g
3 Gula 0,0 g
6 Serat 9 g
5

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

21

22

23

24

25

26

27

28

29

Lemak

jenuh
monounsaturated
polyunsaturated
Protein

Triptofan
Treonin

Isoleucine
Leucine
Lysine

Metionin

Sistin

Phenylalanine
Tyrosine

Valine
Arginin

Histidin

Alanin

Asam aspartat
Asam glutamat

Glycine
Prolin
serin

Air

48 g
7 g

24 g

16 g

25 g
0,244 g

0,859 g
0,882 g

1,627 g

0,901 g
0,308 g
0,322 g
1,300 g

1,020 g
1,052 g

3,001 g
0,634 g
0,997 g
3,060 g

5,243 g

1,512 g

1,107 g

1,236 g

4,26 g

No. Nilai gizi per 100 g (3.5 oz) jumlah

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

vitamin                         Tiamin (Vit. B1) Riboflavin (Vit. B2)
Niasin (Vit. B3)     A. pantotenat(B5)
Vitamin B6
Folat (Vit.B9) Vitamin C      Kalsium                Besi           Magnesium       Fosfor              Kalium                 Zinc
0,6 mg (46%)
0,3 mg (20%)
12,9 mg (86%)
1.8 mg (36%)
0,3 mg (23%)
246 μg (62%)
0,0 mg (0%)
62 mg (6%)
mg (16%)
184 mg (50%
336 mg (48%)
332 mg (7%)
3,3 mg (33%)
  1. II. Pohon Industri Kacang Tanah

  1. III. Analisis SWOT

Kacang Tanah

Kacang tanah merupakan salah satu komoditas yang diunggulkan. Ketersediaan lahan bukan masalah dalam pengembangan komoditas ini. Komitment dan perhatian yang besar perlu untuk mengembangkan komoditas ini, bila dilihat kaitan antara kekuatan dan peluang yang ada, salah satunya masalah pasar misalnya.

Di indikator eksternal peluang memang lebih besar dari ancamannya, namun nilainya tidak terlalu jauh berbeda. Ancaman tertinggi ada dari sisi investor, yang disusul keberadaan produk sejenis dari daerah lainnya.

Tabel SWOT Analisis Kacang Tanah

No INDIKATOR INTERNAL Bobot (%) Kekuatan Kelemahan
Skor Nilai Skor Nilai
1 Kesesuaian Lahan 15 3 45 0
2 Ketersediaan lahan 15 3 45 0
3 Nilai Sewa Lahan 5 4 20 0
4 Fasilitas Lembaga Keuangan 5 0 -1 -5
5 Sarana dan Pra sarana Pendukung 10 0 -2 -20
6 Kebijakan Pemerintah Daerah 10 3 30 0
7 Status Penguasaan lahan 5 2 10 0
8 Keberadaan Industri Hilir 10 0 -3 -30
9 Tradisi dan Budaya Lokal 5 2 10 0
10 SDM Pendukung 20 0 -3 -60
Total Nilai 100 160 -115
No INDIKATOR EKSTERNAL Bobot (%) Peluang Ancaman
Skor Nilai Skor Nilai
1 Pasar 20 2 40
2 Harga Jual 20 3 60 0
3 Ketersediaan Saprotan 10 0 -3 -30
4 Keberadaan Investor 15 0 -3 -45
5 Kebijakan Pemerintah Pusat 10 2 20 0
6 Fasilitas Keuangan/Bank Nasional 5 0 -2 -10
7 Keberadaan Produk Sejenis Dari Daerah Lain 10 0 -3 -30
8 Masalah Keamanan dan Kepastian Hukum 10 3 30 0
Total Nilai 100 150 -115

Pasar merupakan suatu potensi yang bisa diakses, namun potensinya yang tidak terlalu besar mengakibatkan pelaku usaha enggan untuk meningkatkan usahanya. Oleh karena itu pelaku usaha masih tetap berusaha dalam skala yang erlatif subsisten. Diperlukan investor yang mau menmpung hasil produksi mereka sehingga memperbesar pasar. Dengan demikian akan menggairahkan para pelaku dalam menanam komoditas ini.

Tabel Matriks SWOT Pengembangan Investasi berbagai Olahan Komoditas Kacang Tanah

SWOT

Faktor Internal
Strengths (S) Weaknesses (W)
Ketersediaan Lahan Kesesuaian Lahan Kebijakan Pemerintah Daerah Sarana & prasarana pendukung, Keberadaan Industri hilir SDM pendukung
Faktor Eksternal S1 S2 S3 W1 W2 W3
Opportunities (O) Pasar Harga Jual O1 Strategi S-O

Kebijakan Produksi , pasar dan Promosi

Optimalisasi penggunaan Potensi Lahan

Strategi W-O

Kebijakan yang terintegrasi antar berbagai aspek terkait.

Meningkatkan Kualitas SDM pelaku usaha

Kebijakan pemerintah O2
Pusat O3
Threates (T) Ketersediaan Saprotan T1 Strategi S-T

Penyediaan saprotan yang bersubsidi

Membangun kemitraan antar pelaku usaha

Strategi W-T

Penyediaan Saprotan Yang bersubsidi

Meningkatkan SDM pelaku usaha.

Keberadaan Investor T2
Keberadaan Produk sejenis dari daerah lain T3

Dari hasil analisis matrik SWOT diperoleh grand strategi yaitu :

  • Kebijakan produksi, pasar, dan promosi.
  • Optimalisasi penggunaan potensi lahan.
  • Kebijakan yang terintegrasi antar berbagi sektor terkait.
  • Meningkatkan SDM pelaku usaha.
  • Penyedian saprotan yang bersubsidi.
  • Membangun kemitraan antar pelaku usaha.
  • Subsektor Tanaman Pangan

Tabel Matriks SWOT Snack Kacang Tanah

SWOT

Faktor Internal
Strengths (S) Weaknesses (W)
Ketrampilan dari wirausaha Harga yang terjangkau Kualitas yang baik Modal yang cukup Kenaikan bahan baku pendukung, Persaingan Modal yang cukup Pengetahuan dan pengalaman usaha kurang
Faktor Eksternal S1 S2 S3 S4 W1 W2 W3 W4
Opportunities (O) Mendapatkan laba yang maksimal O1 Strategi S-O

1.Keinginan pasar dan Promosi

2.Optimalisasi penggunaan teknologi

Strategi W-O

1.Pilihan  yang terbaik antar berbagai aspek.

2.Meningkatkan kualitas bahan mentah

Menciptakan sesuatu yang beda O2
Lingkungan yang mendukung kegiatan usaha O3
Threates (T) Adanya persaingan makanan ringan yang lain T1 Strategi S-T

1.Memberi yang di inginkan konsumen

2.Membangun kepercayaan konsumen

Strategi W-T

1.Penyediaan bahan baku yang kualitanya bagus

2.Meningkatkan SDM pelaku usaha.

Konsumen yang bosan T2
Harga bahan baku yang terus naik T3

Tabel Matriks SWOT BBN (Bahan Bakar Nabati) Biodiesel

SWOT

Faktor Internal
Strengths (S) Weaknesses (W)
Ketersediaan bahan baku kacang tanah,  lahan dan teknologi Sumber energi biodiesel dapat diperbarui Dapat mengurangi ketergantungan

pada solar

pada solar

Biodiesel lebih irit, pembakaran lebih

bersih, tidak ada asap dan jelaga

Kurangnya dana untuk modal kerja Kurangnya sosialisasi produk biodiesel kemasyarakat Sistem pemasaran belum standar Ketidakpastian harga biodiesel Kurangnya insentif bagi industry  biodiesel
Faktor Eksternal S1 S2 S3 S4 W1 W2 W3 W4 W5
Opportunities (O) Menambah pendapatan petani dan kesempatan kerja O1 Strategi S-O

1.Mendorong masuknya investor dengan menciptakan iklim yang kondusif (infrastruktur dan kepastian hukum)

2.Membuat peraturan daerah yang mendukung industri biodiesel

3.Melakukan peningkatan usaha tani Kacang tanah

4.Memberi kesadaran masyarakat akan energi yang ramah lingkungan

Strategi W-O

1.Mengembangkan biodiesel berdasarkan keuntungan

ekonomi dan lingkungan

2.Memberikan insentif kepada pengusaha

biodiesel

3. Membentuk kelompok petani kacang tanah untuk membangun usaha biodiesel skala kecil

4. Sosialisasi pengolahan kacang tanah menjadi biodiesel dan manfaat pemakaiannya

Tidak bergantung pada kiriman solar O2
Memperbaiki lingkungan hidup O3
Saingan usaha sedikit O3
Threates (T) Tingginya upah tenaga kerja dan biaya transportasi T1 Strategi S-T

1. Memperbesar usaha biodiesel untuk mengatasi upah buruh dan biaya transportasi

2. Menciptakan keamanan daerah lebih kondusif

3. Mengembangkan industri biodiesel pada pulau-pulau terpencil yang mempunyai potensi

Strategi W-T

1. Melibatkan BUMD dan masyarakat setempat dalam menginisiasi usaha biodiesel

2. Mengembangkan industri biodiesel berkelanjutan

3. Memberikan subsidi ke biodiesel

4. Memanfaatkan dan melatih tenaga setempat (lokal) untuk membantu usaha biodiesel

Kompetisi peruntukan bahan baku untuk pangan dan energi T2
Pengusaha cenderung menjual biodiesel ke luar negeri daripada untuk lokal T3

Tabel Matriks SWOT Selai kacang

SWOT

Faktor Internal
Strengths (S) Weaknesses (W)
Nilai gizi yang tinggi Harga yang terjangkau Pengolahan yang mudah Tersedianya lapangan pekerjaan Kenaikan bahan baku pendukung, Persaingan Teknologi pengolahan kurang Pengetahuan dan pengalaman usaha kurang
Faktor Eksternal S1 S2 S3 S4 W1 W2 W3 W4
Opportunities (O) Mendapatkan laba yang maksimal O1 Strategi S-O

1.Keinginan pasar dan Promosi

2.Optimalisasi penggunaan teknologi

Strategi W-O

1.Pilihan  yang terbaik antar berbagai aspek.

2.Meningkatkan kualitas bahan mentah

3. Melakukan peningkatan usaha tani Kacang tanah

Menciptakan sesuatu yang beda O2
Produk yang umum dan di sukai konsumen O3
Threates     (T) Adanya persaingan selai dari bahan olahan selain kacang tanah T1 Strategi S-T

1.Memberi yang di inginkan konsumen

2.Membangun kepercayaan konsumen

Strategi W-T

1.Penyediaan bahan baku yang kualitanya bagus,

2.Meningkatkan SDM pelaku usaha.

3.Membuat inovasi produk selai kacang tanah baru.

Konsumen yang bosan T2
Harga bahan baku yang terus naik T3
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: