Beranda > Pertanian > SELEKSI BULK

SELEKSI BULK

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Banyak tanaman menyerbuk sendiri mempunyai arti ekonomi penting, baik sebagai tanaman bahan makanan, hortikultura maupun tanaman industri. Tanaman ini antara lain: padi, gandum, kedelai, kacang tanah, tomat, terung, tembakau dan kapas, yang semuanya berupa tanaman semusim dan dikembangbiakkan dengan biji. Oleh karena mempunyai arti penting, maka tanaman tersebut banyak diusahakan petani sejak ratusan bahkan ribuan tahun silam, sehingga tidak heran apabila telah lama dilakukan usaha-usaha peningkatan produksi dan mutu, baik melalui seleksi maupun cara bercocok tanamnya.

Upaya peningkatan atau perbaikan sifat lebih digiatkan setelah diperkenalkan hukum Mendel, terutama melaui hibridasi yang dilakukan dengan seleksi. Ternyata usaha ini banyak berhasil dan dapat diciptakan varietas-varietas yang mengarah pada harapan petani. Walaupun pemuliaan terus dilakukan, namun ternyata usaha untuk menciptakan varietas yang diinginkan tidaklah mudah, karena banyak faktor yang dapat menghalangi untuk menilai dengan cepat, baik dalam pemilihan tetua maupun seleksi dalam keturunan.

Sasaran yang hendak dicapai pada program pemuliaan tanaman ini adalah sifat unggul pada tanaman homozigot. Memang, ciri khusus varietas tanaman menyerbuk sendiri yang dikembangbiakkan melalui biji adalah susunan genetiknya homozigot, kecuali untuk varietas hibrida. Untuk memperoleh tanaman- tanaman homozigot dari hasil hibridasi atau dari populasi heterogen, peranan seleksi amat penting artinya. Pekerjaan selesksi ini perlu didasari metode tertentu agar perbaikan sifat yang dituju dapat berlangsung efektif.

Pada program pemuliaan tanaman meyerbuk sendiri, secara konvensional ada empat  prosedur yang sering digunakan. Prosedur ini telah dibuktikan paling sesuai dan memberi hasil cukup memuaskan. Keempat prosedur tersebut adalah instroduksi, seleksi parental (tetua), hibridasi yang dilanjutkan dengan seleksi.

Dalam seleksi diperlukan dasar-dasar teori dan metode tertentu, agar dapat meramalkan individu- individu harapan dari populasi bersegregasi. Supaya seleksi dapat berjalan secara efisien, perlu digunakan suatu metode yang sesuai dengan tujuan pemuliaan. Ada beberapa metode yang sering digunakan, yakni:

1.      Seleksi Pedigree (silsilah)

2.      Seleksi Bulk (curah/massa)

3.      Single Seed Descent (Penurunan dari biji tunggal)

4.      Back Cross (silang belah)

Pemuliaan untuk sifat kuantitatif lebih sulit dibanding sifat kualitatif yang mudah dinilai secara fenotip. Oleh karena itu diperlukan pekerjaan lebih banyak untuk mencapai tujuan peningkatan sifat, terutama pada produksi.

Metode pemuliaan tanaman menyerbuk sendiri dapat dilakukan melalui introduksi, seleksi massa atau seleksi galur murni, hibridisasi yang dilanjutkan dengan seleksi. Pada  seleksi bulk, seleksi ditunda sampai generasi lanjut (f5 atau f6) setelah hibridisasi.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Metode Seleksi BULK

Metode bulk adalah salah satu prosedur untuk silang dalam dari populasi yang bersegregasi/terpisah sampai level perubahan menuju sifat  homozigot itu dicapai. Biji digunakan untuk menanam tiap-  tiap generasi persilangan adalah sebuah contoh yang itu dipanen dari tanaman generasi yang lalu. Metode ini pertama kali dikembangkan untuk penanaman tanaman menyerbuk sendiri, tetapi dapat juga digunakan baik pada populasi silang dalam atau menyerbuk silang (Fehr, 1987)

Metode pemulian dengan populasi bulk merupakan metode yang ekonomis dalam menghasilkan galur-galur yang homozigot untuk kemudian diseleksi. Metode ini  memberikan keuntungan jika diterapkan dalam pemuliaan untuk sifat-sifat kuantitatif yang memerlukan seleksi pada generasi lanjut (Poelhman, 1986).  Metode populasi bulk juga memberikan seleksi awal berupa tekanan seleksi bagi genotipe-genotipe yang kurang adaptif dan mempunyai nilai agronomi yang buruk pada saat  pembentukan bulk dimana genotipe akan ditanaman pada kerapatan yang tinggi sehingga menimbulkan persaingan antar genotip sebagai tekanan seleksi alam.

Dari segi waktu diperlukan kurang lebih 3 sampai 4 tahun untuk memperoleh galur-galur harapan padi gogo yang memiliki sifat multitoleran . Pada tahun pertama merupakan tahap awal untuk mengevaluasi galur-galur tetua (yang tadinya hanya memiliki satu sifat toleransi) pada kondisi multi cekaman (kekeringan, tanah masam dan naunga) dan pada tahun ini juga dimungkinkan untuk dilakukan persilangan dari tetua-tetua yang terpilih hasil evaluasi. Pada tahun kedua dapat dilakukan evaluasi terhadap F1 hasil persilangan tetua.  Evaluasi ini lebih diarahkan mencari karakter fisiologi yang dapat digunakan untuk seleksi hasil-hasil persilangan selanjutnya. Pada tahun ini juga dilakukan persilangan dialel dengan tujuan menggabungkan karakter yang diinginkan. Pada tahun ketiga dilakukan pembentukan populasi bulk dengan metode restrited bulk.  Salah satu kriteria yang digunakan untuk seleksi adalah hasil evaluasi fisiologi.  Pembentukan popuilasi terus dilakukan sampai dengan generasi ke 5.  Setelah itu calon galur yang terpilih, diseleksi pada kondisi multi cekaman untuk mendapatkan galur-galur harapan.

Keuntungan dari metode bulk

  • Metode bulk adalah sebuah  jalan yang mudah untuk mempertahankan populasi selama persilangan.
  • Seleksi alami merupakan seleksi yang mungkin  terjadi, yang dapat meningkatkan perubahan genotip yang sama dengan tidak melakukan seleksi pada populasi.
  • Metode bulk dapat digunakan dengan  mudah dan dapat dihubungkan antara seleksi massa dengan menyerbuk sendiri.(Ferh, 1987)

BAB III

PEMBAHASAN 

3.1 Seleksi Bulk

Pada metode bulk tidak dilakukan pemisahan atau seleksi pada generasi awal. Tanaman segregasi dibiarkan tumbuh bercampur dalam populasi, sehingga memungkikan terjadi persilangan diantara genotipa berbeda.

Metode ini memerlukan lebih sedikit pekerjaan dibanding metode pedigree. Setelah seleksi dilakukan hanya generasi lanjut setelah tanaman banyak yang homosigot. Selama tumbuh bercampur dalam suatu populasi, pertama akan terjadi selesi alam, sehingga tanaman yang tidak tahan menghadapi cekaman lingkungan akan tertinggal pertumbuhannya atau mati. Kedua terjadi peningkatan genetic akibat kemungkinan perubahan silang.

3.2 Kelebihan dan kekurangan seleksi bulk

Kelebihan : relatih murah dan sederhana, ekonomis untuk tanaman berumur pendek, tanaman yang baik tidak terbuang, beberapa generasi dapat dilakuakan pada tahun yang sama.

Kekurangan : silsilah galur tidak tercatat sejak awal, seleksi alam pada generasi awal dapat menghilangkan genotipe yang baik, memerlukan lahan yang luas

3.3 Prosedur metode bulk dapat dijelaskan sebagai akibat :

  • Tanaman F2 ditumbuhkan pada petak relatif  besar dengan jumlah tanaman ratusan sampai ribuan. Dapat ditanam dengan jarak komersial (sempit). Biji tanaman terseleksi dipanen dan dicampur diadikan benih untuk generasi berikutnya.
  • Generasi F3 dipanen secara bulk dan bijinya dicampur. Sebagian bijinya dijadikan benih untuk generasi berikutnya.
  • Proses seperti generasi F3 diulangi sampai F5, yakni dengan maksud memperoleh proporsi homosigot relatif besar pada populasi, setelah itu baru dilakukan sekeksi secara individual.
  • Biji tanaman terseleksi ditanam dalam barisan atau petakan. Setelah itu dilanjutkan seleksi secara individual, sehingga diperoleh galur yang diharapkan.
  • Galur harapan diuji beberapa lokasi dan musim untuk mengetahui daya adaptasinya.

3.4 Pemilihan Secara Bulk

Pemilihan secara bulk dilakukan pada generasi ke-6 (F6).  Pada pemilihan secara bulk, keturunan F2 sampai F5 ditanam tanpa mengalami seleksi.  Jadi, setiap generasi pertanaman setelah masak dipanen dan dicampur untuk digunakan sebagai bahan pertanaman generasi berikutnya.  Pada F5 mulai dilakukan pemilihan karena secara teori, pada F5 ini proporsi populasi yang homozigot sudah mencapai lebih dari 90 % sehingga memudahkan pelaksanaan pemilihan.  Tanaman terpilih diberi nomor dan ditanam pada F6 secara terpisah dalam barisanuntuk setiap nomornya.  Nomor baris terpilih kemudian ditanam pada F7 di petak-petak tertentu desertai penanaman varietas standar sebagai pembanding, sebagai langkah pengujian pendahuluan.  Nomor (petak) terpilih pada F7 ditanam pada musim berikutnya sebagai F8 dengan menggunakan penanaman varietas standar sebagai pembanding, dengan rancangan percobaan yang baik dan dilakukan pada berbagai lokasi sebagai langkah pengujian lanjut.  Hal yang sama dilakukan pada F9; dan dari hasil pengujian di F9 ini kemudian dilakukan perbanyakan benih nomor-nomor yang lolos secara komersial,setelah mendapatkan pengesahan.

Dengan metode bulk diharapkan memperoleh genotip yang daya hidupnya tinggi dalam populasi campuran dan homosigot setelah beberapa generasi. Namun dapat terjadi bahwa suatu genotipa yang tidak menonjol di populasi campuran karena kalah dalam persaingan tetapi menunjukkan produksi tinggi apabila ditanam tanpa campuran. Hal ini merupakan salah satu kelemahan metode bulk. Kelebihan metode ini adalah relatif lebih mudah penanganannya dan tidak memerlukan tenaga banyak terutama pada pencatatan masing-masing individu tanaman.

Gambar

BAB IV

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Metode seleksi populasi bulk dari generasi dini ditanam tercampur dan seleksi individu – individu ditunda sampai F5 atau F6. Metode ini sederhana dan pekerjaan lebih sedikit dari pada metode seleksi lainnya. Genotype yang diinginkan dengan potensi hasil tinggi sering tidak diketahui didalam populasi bulk, karena tanaman ini mungkin lemah daya kompetisinya untuk sinar.

Kelebihan : relatih murah dan sederhana, ekonomis untuk tanaman berumur pendek, tanaman yang baik tidak terbuang, beberapa generasi dapat dilakuakan pada tahun yang sama. Kekurangan : silsilah galur tidak tercatat sejak awal, seleksi alam pada generasi awal dapat menghilangkan genotipe yang baik, memerlukan lahan yang luas

DAFTAR PUSTAKA

Fehr, W. R. 1987. Principle of  Cultivar Development. Vol. 1. The Ronald Press Co. New York.

Kusnawidjaja, Kusna. 1987. Pemuliaan Tanaman. Yogyakarta : UGM Press.

M. Nawawi. 2000. Genetika dan Pengantar Pemuliaan Tanaman. Malang : CV. Chandra Multiusaha.

Poespodarsono, Soemarjo. 1988. Dasar-Dasar Pemuliaan Tanaman. Bogor : IPB-Press.

Robbert Dryer, dkk . 1993. Pemulian Tanaman. Jakarta : Usaha Nasional

Kategori:Pertanian Tag:
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: